Assalamua'laykum ikhwah fillah..
Kita semua pasti pernah berada pada fase dimana kita begitu semangat dalam beribadah. Shalat 5 waktu selalu on-time bagaikan prajurit yang sangat patuh dan disiplin kepada komandannya, Qiyamul lail tak pernah lewat ibarat tentara yang siap berperang ketika yang lain begitu tertidur lelap, Tak ada 1 hari pun tanpa shalat dhuha bahkan konsisten 12 rakaat setiap harinya, Tilawatil quran pun tidak pernah ketinggalan dengan targetan 1 day 1 juz bahkan lebih. Selain itu, puasa senin-kamis pun ruti dijalankan, dan masih banyak amalan lainnya yang dilakukan..
Eittss, tapi kita juga pasti pernah berada di fase dimana semangat kita dalam beribadah tiba - tiba menurun perlahan bahkan drastis. Yang tadinya shalat selalu on time, tiba - tiba rasanya begitu berat melangkahkan kaki ke masjid. Jika sebelumnya tidak pernah terlewat qiyamul lail, tiba - tiba tidak bisa terjaga di 1/3 malam lagi bahkan terlewat hingga fajar. Yang awalnya shalat dhuha luar biasa konsisten, sekarang 2 rakaat pun terasa begitu berat melakukannya. Dan juga yang tadinya begitu konsisten tilawatil quran, baca quran bahkan membukanya pun rasanya begitu malas entah karena kesibukan yang tak berujung ataupun hal lainnya. Karena pada hakikatnya, setiap ada masa semangat pasti ada masa futur..
Nah, wajar kah kalo kita pernah merasakan hal seperti itu? naah kejadian atau fase seperti itu biasa disebut futur. Jadi definisi futur sendiri secara bahasa artinya itu lemah. Lemah yang dimaksud itu lemah ketika sebelumnya telah bersemangat seperti menjadi malas - malasan, jadi sering menunda-nunda, dsb. Secara istilah, futur adalah keadaan lemahnya iman atau turunnya iman seseorang.
Namun futur sendiri adalah sesuatu yang wajar, biasa, manusiawi dan pasti setiap orang pernah mengalaminya. Sebagaimana sabda Rasullullah SAW, “Setiap amal itu ada masa-masa semangat dan setiap masa-masa semangat ada masa futur. Barangsiapa yang masa futurnya tetap dalam sunnah, maka dia telah mendapat hidayah (beruntung). Namun barangsiapa yang masa futurnya membawa kepada selain sunnah, maka dia telah celaka.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad, 2/158-188, Shahih Al-Jami’ As-Shaghir, no. 2147).
Nah, kalo kita sedang berada di fase futur, apa yang harus kita lakukan? ya sesuai anjuran Rasulullah SAW, harus tetap pada sunahnya. Misal, tiba - tiba rasa malas datang untuk membaca Al-quran, ya kita bisa ganti dengan amalan dzikir. Jika tiba - tiba malas melakukan puasa sunnah, kita ganti dengan lebih sering membantu oranglain, Jika tiba - tiba sulit qiyamul lail ya kita ganti dengan sedekah. Itu semua hanyalah sedikit contoh gambaran yang dapat dilakukan ketika kita berada di fase futur.
Dan diakhir penulis ingin menyampaikan, sesuatu yang ditakutkan adalah ketika kita tutup usia dalam keadaan futur. Karena sungguh amal seseorang itu tergantung kesudahannya sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Sesungguhnya seorang hamba itu ada yang melakukan amalan ahli neraka padahal ia termasuk ahli surga, dan ada pula yang mengamalkan amalan ahli surga padahal ia termasuk ahli neraka. Sesungguhnya amal itu tergantung pada kesudahannya.” (HR. Bukhari).
Semoga artikel ini dapat sama - sama saling mengingatkan khususnya untuk penulis sendiri. Semoga bermanfaat, tentu penulis sendiri masih penuh keterbatasan ilmu, mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan.. Wassalamua'alaykum wr wb..

0 comments:
Post a Comment