menuntunmu kembali
ke singgahsana dimana kertas itu berada.
Singgahsana dimana huruf – huruf rindu sering tersesat.
Lalu dalam diam, ku mulai menyusun
semuanya menjadi rumah sajak
berdindingkan jarak yang entah dimana ujungnya.
Kemudian dirimu jauh tersesat,
lalu terjatuh dalam jurang
angan – angan, kepasrahan dan keikhlasan.
Dentingan waktu pun seakan tak kuasa menjawab,
selain
berucap ‘maaf’
check this out :):

