Di tengah riuhnya bising kendaraan di pagi hari,
Sembari di temani merdunya kicauan burung kenari.
Berbisik cerita penuh intuisi,
Berbisik cerita penuh intuisi,
Jeda waktu diantara skripsi, jarak, dan imajinasi.
Kemudian sejenak terdiam mengikuti untaian melodi,
Lalu berjalan beberapa tapak ke depan menembus ruang dimensi.
Tak heran jika dilema pun membumi, seakan membunuh batas gravitasi.
Tak heran jika dilema pun membumi, seakan membunuh batas gravitasi.
Meluluhlantahkan apa yang terlintas di benak sang roma.
Memasang ikat kepala untuk melanjutkan studi?
ataukah mengibarkan bendera perjuangan untuk mengais rezeki?
Tak dipungkiri ketika dihadapkan dengan dua pilihan yang keduanya sama baiknya.
Bagaikan satu waktu ketika dirimu diharuskan memilih diantara bidadari ataukah cinderella.
Bagaikan satu waktu ketika dirimu diharuskan memilih diantara bidadari ataukah cinderella.
Menuntut ilmu di negeri seberang?
Itu secerca impian sejak lama.
Berjuang mengadu nasib demi mencari sebulir padi?
Ah, itu memang sudah keharusan.
Itu secerca impian sejak lama.
Berjuang mengadu nasib demi mencari sebulir padi?
Ah, itu memang sudah keharusan.
Lantas?
ya, saat ini aku hanya mampu terdiam membisu lalu hanyut bersama bayangan skripsi.
Hingga nanti tiba saatnya, jawaban sang illahi turun bersamaan dengan hadirnya bidadari.
ya, saat ini aku hanya mampu terdiam membisu lalu hanyut bersama bayangan skripsi.
Hingga nanti tiba saatnya, jawaban sang illahi turun bersamaan dengan hadirnya bidadari.
Ditemani indahnya senyuman pelangi disandingkan dengan bait - bait puisi ~

