Content
Hujan yang dirindukan
akan ada saat dimana singgahsana sunyi nan sepi lebih aku cintai
Singgahsana yang hening penuh akan kedamaian, nan jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Ditemani hembusan angin, sembari menatap anggunnya langit di senja hari.
Semesta seakan ingin ikut bercengkrama
Menanti hujan yang tak kunjung kembali.
Mencoba bertanya kepada rembulan
namun ia hanya diam tersenyum dari kejauhan sembari menanti sang mentari terbenam.
langit pun ikut membisu, seakan memberi isyarat pada semesta bahwasanya ia pun begitu merindukan hujan.
iya hujan..
yang hingga saat ini masih bersembunyi
diantara indahnya perjumpaan dan harapan yang terabaikan.
Bahagia tak selalu bicara materi
Minggu(26/11/2017)-
Pada hari ini komunitas @ketimbang.ngemis_karawang mengadakan program “sehari menjadi mereka” dengan solia (sosok mulia) Abah Katim, yakni penjual mainan laba2 yg prnah saya critakan di blog sblumnya. Bertempat di lapang KarangPawitan, Karawang. Pada hari ini sbenarnya tim @ketimbang.ngemis_karawang terbagi menjadi 3 tim dengan 3 solia. Akan tetapi karna penulis mnjadi tim Abah katim , penulis hnya dapat membagikan crita sehari menjadi beliau.
Awalnya Abah Katim membawa 100 mainan, kmudian kami dibagi menjadi bbrapa tim lagi dengan jumlahnya dibagi sama rata. Disinilah tantangan sbnarnya, ketika kita berjualan kita akan bertemu dengan berbagai macam tipikal masyarakat. Ada yg begitu antusias, adapula yang acuh dgn brg yg kami dagangkan.
Tak jarang ada yang membuang muka ketika baru kami tawarkan, adapula yg dgn sukarela bahkan bgtu dermawan memberikan donasi untuk Abah Katim. Sudah skitar 30 menit kami berjualan, blm satupun mainan kami terjual. Seakan diacukan sudah menjadi hal yg biasa untuk kami.
“Ya Allah, sbgtu hebatnya abah katim yg seorang diri menjual mainan ini, sedangkan kami yang beregu pun cukup kesulitan menjualnya”.
Tak lama kemudian, alhamdulillah pertolongan Allah pun dtg. Akhirnya kami dapat 1 pembeli yg bgtu antusias dgn sosok Abah Katim. Berselaung stlah itu, mulailah satu persatu mainan kami laku terjual dan akhirnya habis terjual. Barakallah..
Setelah acaranya slesai, alhamdulillah tim @ketimbang.ngemis_karawang berhasi menjual 100 mainan lebih, dan mainan yg abah bawa habis smua, yuhuuu.
Disinilah abah tidak henti2 nya mengucapkan terimakasih kepada kami. Harusnya kamilah yg berterimakasih kepada abah yg tlah memberikan banyak pelajaran kepada kami.
“Terkadang memang kebahagiaan itu tidak melulu bicara materi. Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita tlah menyadari apa arti dari syukur itu sesungguhnya”
Kepada teman2 yang nnti mungkin bertemu dengan Abah katim berjualan, bantu beli mainannya yaa.
#saynotongemis
Terimakasih abah Katim
Assalamu'alaykum..wr..wb
Pada hari ini, tepatnya 5 November 2017, komunitas Ketimbang Ngemis Karawang (KNK) memiliki 2 agenda untuk menemui 2 solia (sosok mulia) yakni abah Amin dan abah Katim. Siapakah sosok beliau sebenarnya? In syaa Allah akan saya coba bahas satu persatu disini.
Pada hari ini, tepatnya 5 November 2017, komunitas Ketimbang Ngemis Karawang (KNK) memiliki 2 agenda untuk menemui 2 solia (sosok mulia) yakni abah Amin dan abah Katim. Siapakah sosok beliau sebenarnya? In syaa Allah akan saya coba bahas satu persatu disini.
Baik saya akan coba jelaskan. Usia beliau sudah tidak muda lagi, dan beliau (maaf) sempat terkena penyakit katarak, namun Alhamdulillah berkat amanah, doa dan sumbangsih teman – teman & donatur melalui komunitas Ketimbang Ngemis Karawang, beliau baru saja melakukan operasi kataraknya dan saat ini sedang dalam tahap pemulihan. Dan yang membuat hati ini terenyuh adalah ketika beliau mengutarakan keinginannya untuk dapat membaca dengan jelas Al-quran. Allahu akbar..
"Disini diriku merasa tertampar,
yang terkadang masih melewatkan hari berlalu begitu saja tanpa membaca
Al-quran. Alasan sibuk dengan pekerjaan, lelah dalam beraktifitas, ahh 1001
alasan. Padahal hakikatnya tilawah quran itu meluangkan waktu untuk membaca
bukan membaca quran di waktu luang."
Baik itu tadi hanya intermezzo
sedikit hehe
Lanjut, kemudian setelah bertemu
dengan abah katim, dari komunitas Ketimbang Ngemis Karawang berdialog sedikit
dengan abah katim. Lalu menanyakan sudah laku berapa mainan yang terjual,
alhasil abah katim menjawab, “Alhamdulillah sudah 10 mainan hari ini dari 50
mainan yang dibawa”. Kami pun sontak mengucapkan hamdalah dan turut senang
dagangan abah katim sudah terjual 20 persennya. Kemudian setelah sampai kurang
lebih sekitar jam 10an, kami mengajak abah katim untuk pulang dan mengajarkan
kami bagaimana cara membuat mainan tersebut.


Ternyata jarak dari tempat abah
katim berdagang dengan rumahnya cukup jauh, kurang lebih sekitar 2KM. Abah
katim biasa melalui rute itu dengan berjalan kaki. Padahal kondisi penglihatan
abah juga masih belum pulih betul dan mengingat usia abah katim yang sudah
cukup berumur, tentu jarak 2KM itu sangatlah melelahkan. Dan perlu
digarisbawahi bahwasanya beliau hanya berjualan barang dagangannya di hari
sabtu dan minggu saja mengingat usia nya yang sudah tak lagi muda.
"Ya Disini lagi-lagi diriku merasa
tertegur ketika melihat abah katim memikul barang dagangannya dalam satu plastik
besar, baru laku 10 buah saja namun beliau sudah sangat bersyukur. Ya , memang benar
terkadang diri ini seringkali kufur akan nikmat yang Allah berikan, serta rasa
tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Qadarullah, lagi – lagi diriku
banyak belajar dari abah Katim akan pentingnya qanaah dalam hidup."
Duh, maafkan lagi – lagi intermezzo
hehe
Baik, sesampainya di rumah abah
katim, beliau langsung mengambil sebuah kresek hitam. Dan ternyata itu adalah
bahan utama mainan tersebut. Dan ternyata itu adalah sebuah asahan untuk
mencetak tubuh laba – laba dan tanah liat biasa. Luar biasa, ini diluar dugaan kami karena bahan yang beliau gunakan sebagian besar benda daur ulang yang
mudah kita dapatkan di sekitar kita. Namun beliau begitu kreatif mengolahnya
menjadi sesuatu yang bernilai. Dan disini kami mulai diajarkan beliau bagaimana
cara membuat mainan tersebut. Ternyata tidaklah mudah, jika baru saja
mencobanya mungkin bentuk laba – labanya tidak sebaik buatan abah katim hehe
Di akhir cerita ini ku banyak mengambil pelajaran diantaranya ketika orang – orang lain disana berlomba – lomba menjadi pengemis ataupun meminta – minta belas kasihan oranglain padahal orang tersebut masih mampu melakukan hal selain itu, namun tidak untuk Abah Katim. Karena pada dasarnya, rezeki semua orang itu sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya dan mensyukurinya.
Bila teman – teman bertemu abah
Katim ataupun sosok seperti abah Katim, belilah barang dagangannya semampu
kita. Mungkin uang yang kita keluarkan terasa kecil untuk kita, namun tidak
untuk mereka. Oh iya, bagi rekan – rekan yang mungkin ingin membeli dagangan abah katim atau berbagi sebagian rezeki kepada abah Katim, teman – teman dapat menemui beliau setiap sabtu dan minggu pagi di Karang Pawitan in syaa Allah.
"Dan memang, Terkadang kita perlu
menjadi orang yang pura – pura membutuhkan. Bukan karena memang butuh, mungkin
lebih tepatnya memposisikan diri kita pada posisi mereka dan juga refleksi rasa
syukur kita kepada yang Maha Kuasa."
Mungkin cukup sekian mengenai
cerita singkat sosok Abah Katim semoga dapat menginspirasi teman – teman sekalian.
Mengenai sosok abah Amin , in syaa Allah akan saya bahas di post berikutnya.
Mohon maaf bila banyak khilaf dan kesalahan kata, walau bagaimana pun penulis
hanyalah seorang manusia biasa yang belum baik namun masih berproses untuk
menjadi orang baik.
Wassalamu’alaykum..Wr.wb
Kisah sebentar bersama Orientasi Relawan
Izinkan pada kesempatan kali ini saya berbagi ke teman sejawat sekalian mengenai ilmu yang saya dapatkan dari pak Rafi, mas Doni, dan kang Uut di Orientasi Relawan Karawang kemarin, karena terlalu ego rasanya jikalau saya menyimpan ilmu yang begitu bermanfaat ini sendirian.
Semoga menginspirasi :)
----------------------------------------------------------------

Sesungguhnya setiap dari kita adalah relawan karena pada hakikatnya relawan adalah "jiwa" dan setiap manusia pasti memiliki "jiwa". Hanya saja, "jiwa" itu sendiri terbagi menjadi 2 pilihan yakni jiwa yang merelakan dirinya untuk senantiasa melakukan kebaikan atau jiwa yang rela dirinya terhanyut dalam lingkaran kemungkaran.
Perlu untuk diingat bahwasanya hidup ini bukan hanya berbicara tentang aku dan kamu, namun juga tentang mereka. Ketahuilah ketika seseorang telah mengorbankan sebagian waktunya untuk membantu kesulitan oranglain, sesungguhnya ia tlah mengundang beribu keajaiban untuk dirinya sendiri. Lantas, apa definisi sebenarnya dari kata "relawan" itu sendiri?
Relawan bukanlah seorang yang mana ia menyadari betul bahwasanya terdapat suatu masalah di sekitarnya , namun ia hanya berdiam diri dan memilih untuk menjadi penonton. Bukan pula seorang yang dengan bangganya menyatakan bahwasanya ia adalah seorang relawan hanya karena ia tlah menggunakan atribut "relawan".
Akan tetapi, relawan ialah seorang yang berpegang teguh dengan prinsipnya bahwasanya ia akan selalu ambil bagian dikala kesempatan kebaikan itu hadir. Relawan juga harus siap menjadi pioneer kebaikan untuk kalangan di sekitarnya.


Sudah menjadi sebuah keharusan untuk relawan memiliki visi dalam hidupnya. Bagaikan kapal tanpa nahkoda, jika relawan tidak memiliki visi maka ia akan terombang ambing tertelan hembusan ombak bahkan tenggelam karena tidak memiliki tujuan kemana ia akan berlabuh.
Ketika relawan tlah memiliki visi, in syaa Allah itu akan membawanya kepada keistiqomahan dalam kebaikan serta dapat memberikan kontribusi positif untuk sekitar. Ambilah setiap kesempatan untuk berbuat kebajikan karena begitu banyak orang yang sudah meninggalkan dunia ingin 1 hari saja dikembalikan ke dunia hanya untuk melakukan kebaikan, namun tentu itu sudah tidak mungkin.
Salahsatu problematika yang terjadi saat ini adalah begitu banyak orang yang enggan menyebarkan suatu kebaikan karena takut dianggap riya sehingga ia lebih memilih diam, bahkan acuh. Bukankah menyebarkan suatu kebaikan termasuk syiar dalam islam? Bahkan pahala yang mengajak kebaikan akan dilipatgandakan sejumlah orang yang mengikuti ajakannya. Sungguh yang mengetahui isi hati riya atau tidak seseorang itu hanya dirinya dan Allah SWT saja. Jika bukan karena syiar islam, tidak mungkin rasanya hingga hari ini kita semua merasakan nikmat iman dan Islam dalam diri kita.
Di sisi lain, suatu kemungkaran yang terorganisir lebih cepat tersebar dan tak sedikit kalangan orang yang memilih untuk aktif berkomentar namun tidak menghadirkan aksi nyata untuk menghadirkan solusi dari problematika tersebut. Dan ketahuilah bahwasanya salahsatu penyebab merajalelanya kemungkaran adalah karena diamnya orang baik.
Diriku bertutur seperti ini bukan berarti diriku lebih baik dari kalian, sama sekali tidak. Akan tetapi ini adalah sebuah pengingat khususnya untuk diriku sendiri serta diriku ingin mengajak bersama - sama dengan kalian untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi dikemudian hari.
Karawang, 1 Oktober 2017
Hamba Allah
Cibuaya vacation
Jujur saja.. diriku bukanlah pecinta
telenovela, bukan pula penggemar drama korea. Namun, izinkan pada kesempatan
kali ini diriku berbagi sedikit cerita nyata yang sungguh tiada sedikitpun rekayasa
di dalamnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada hari ini (23 April 2017),
teman – teman karawang peduli berencana menyalurkan paket berkah yang tempatnya
tidaklah dekat. Waktu tempuh dari karawang menuju tempat beliau yakni cibuaya
+- 2 jam. Ya layaknya dari karawang ke Bandung atau Jakarta mungkin. Kami semua
berangkat dari kantor pukul 13.45 kemudian tiba di lokasi sekitar pukul 16.00.
Ya, Mak Anti. Seorang nenek yang sudah tua renta dan tinggal seorang diri. Keadaan tempat tinggal mak Anti sungguh memprihatinkan.
Rumah yang tidak beralaskan lantai melainkan hanya tanah liat yang berbaur
dengan pur (makanan ayam). Atap dan dinding pun hanya tersusun dari bilik bambu.
Ketika hujan tiba, maka tak jarang rumah mak Anti itu becek. Subhanallah,
terkadang ada bocor sedikit di rumahku saja sudah sibuk mencari baskom,
bagaimana jika posisiku berada di posisi mak anti. Terlalu sering kufur rasanya
diri ini.
Kemudian mak anti pun mulai
bercerita mengenai kesehariannya. Bagaimana mak anti ini seringkali menahan
lapar seharian karena keterbatasannya untuk memenuhi kebutuhannya. Biasanya mak
Anti baru makan menunggu pemberian dari tetangga. Diriku mencoba menyadarkan diri bahwasanya ini bukan di somalia, bukan pula rohingnya, ini negeri ku sendiri. Subhanallah..
Keseharian mak anti beternak angsa dan itupun hanya 3 angsa yang mak Anti miliki. Sisanya terdapat ayam dan angsa yang bukanlah milik mak Anti. Kemudian tak berselang berapa lama, meneteslah air mata mak anti ketika menceritakan keempat anaknya. Dari keempat anaknya, hanya 1 yang masih mengingat mak anti. Ketiga anak yang lain hilang bagaikan ditelan bumi, sudah lama pergi keluar kota dan tak memberi kabar sama sekali hingga saat ini. Duh ya Allah, sungguh tegar mak Anti ini. Lagi – lagi diriku merasa tertampar, diriku berjanji pada diriku sendiri jika kelak ibu ku sudah lanjut usia tak kan ku biarkan ibuku seperti ini.
Keseharian mak anti beternak angsa dan itupun hanya 3 angsa yang mak Anti miliki. Sisanya terdapat ayam dan angsa yang bukanlah milik mak Anti. Kemudian tak berselang berapa lama, meneteslah air mata mak anti ketika menceritakan keempat anaknya. Dari keempat anaknya, hanya 1 yang masih mengingat mak anti. Ketiga anak yang lain hilang bagaikan ditelan bumi, sudah lama pergi keluar kota dan tak memberi kabar sama sekali hingga saat ini. Duh ya Allah, sungguh tegar mak Anti ini. Lagi – lagi diriku merasa tertampar, diriku berjanji pada diriku sendiri jika kelak ibu ku sudah lanjut usia tak kan ku biarkan ibuku seperti ini.
Kemudian kami pun berinisiatif
membeli makan untuk mak Anti. Pada awalnya mak Anti tersipu malu untuk makan
bersama kami, Namun akhirnya beliau makan bersama kami dengan tak jarang tawa
hadir di wajah mak Anti. Untuk kesekian kalinya mak Anti kembali mengeluarkan
air mata. Beliau terharu ketika anaknya pun sudah tidak peduli dengan beliau,
tetapi melihat kami yang bukan siapa – siapa beliau begitu peduli terhadap
beliau, ucap mak Anti.


Ya..ya.ya, lagi – lagi aku banyak
belajar dari beliau bahwasanya ketika orangtua yang sudah tua renta, mereka sangat
merindukan kehadiran anak – anaknya di sisinya. Ini bukan serial cerita fiksi
Malin kundang yang biasa ku baca di dongeng – dongeng, namun ini realita yang
terjadi sesungguhnya. Innalillahi..
Hmm.. lagi
– lagi diriku banyak belajar, seringkali aku mengeluh padahal di luar sana
masih banyak orang yang keadaannya lebih sulit daripada diriku namun tak
mengeluh, setegar mak anti. Aku tak bisa membayangkan ketika kelak aku sudah tua
renta, kemudian hanya tinggal sendiri di gubuk tua tanpa ada seorang pun yang
menemani dengan tempat tinggal pun tak layak untuk dihuni..
Begitu banyak kisah hidup yang
dapat dijadikan pembelajaran ketika kita mau meluangkan waktu kita sejenak untuk
bertemu sosok – sosok layaknya mak anti ini. Meluangkan waktu untuk bertemu
mereka loh ya bukan hanya menemui mereka di waktu luang hehe
Lainsyakartum Laadzidannakum,
sering – seringlah bersyukur akan semua nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita
saat ini. Jika memang bersyukur dirasa sulit, cobalah sekali saja luangkan waktu
untuk menemui sosok layaknya Mak Anti. Atau lebih baik lagi, ubah pola fikir
kita bahwasanya meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka adalah wujud syukur kita
kepada Allah SWT.


Tidak punya waktu? Sibuk? Kan udah dibilang, cobalah meluangkan waktu bukan menemui hanya di waktu luang hehe..
Punya kelebihan harta tetapi
belum ada waktu? Mungkin bisa bantu donasi.
Belum ada kelebihan harta tetapi
ingin ikut berpatisipasi? Kan masih ada tenaga, Ayo ikut bersama kami.
Banyak cara kok selama kita “MAU”,
tidak ada alasan kecuali memang “TIDAK MAU” itu lain hal :)
Baiklah, . Mungkin cukup sekian
dahulu cerita singkat dari penulis ulung ini mengenai kunjungan tim Karawang
Peduli ke mak Anti. Sebenarnya kunjungan kami ke Cibuaya bertemu dengan 2
penerima. Mungkin untuk penerima yang satu lagi akan kuceritakan di lain waktu. Tentunya masih banyak salah kata ataupun penulisan mohon
dimaafkan. Semoga cerita singkat ini dapat menginsipirasi teman – teman sekalian
agar selalu berjuang dalam kebaikan.

Jazakumullah khairan katsiran.
Karawang, 24 April 2017
Penulis ulung
Penulis ulung
Diantara Goresan pena dan baris kerinduan
Click this text to watch video :)
untukmu yang sedang berjuang.
Mimpi bukanlahh sekedar imajinasi yang lantas kau tinggali.
Serangkai kisah bersajak lirih.
Kemudian pena pun muai menari tiada henti.
Untukmu yang sedang berjuang.
Lihatlah senyuman sang mentari pagi ini.
Bercengkrama bersama embun pagi dan lumbung padi.
Kemudian senja pun datang menghampiri.
Jarak kembali menjadi saksi.
Layaknya ia menenggalamkan matahari.
Diantara goresan pena dan baris kerinduan.








