Jujur saja.. diriku bukanlah pecinta
telenovela, bukan pula penggemar drama korea. Namun, izinkan pada kesempatan
kali ini diriku berbagi sedikit cerita nyata yang sungguh tiada sedikitpun rekayasa
di dalamnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada hari ini (23 April 2017),
teman – teman karawang peduli berencana menyalurkan paket berkah yang tempatnya
tidaklah dekat. Waktu tempuh dari karawang menuju tempat beliau yakni cibuaya
+- 2 jam. Ya layaknya dari karawang ke Bandung atau Jakarta mungkin. Kami semua
berangkat dari kantor pukul 13.45 kemudian tiba di lokasi sekitar pukul 16.00.
Ya, Mak Anti. Seorang nenek yang sudah tua renta dan tinggal seorang diri. Keadaan tempat tinggal mak Anti sungguh memprihatinkan.
Rumah yang tidak beralaskan lantai melainkan hanya tanah liat yang berbaur
dengan pur (makanan ayam). Atap dan dinding pun hanya tersusun dari bilik bambu.
Ketika hujan tiba, maka tak jarang rumah mak Anti itu becek. Subhanallah,
terkadang ada bocor sedikit di rumahku saja sudah sibuk mencari baskom,
bagaimana jika posisiku berada di posisi mak anti. Terlalu sering kufur rasanya
diri ini.

Kemudian mak anti pun mulai
bercerita mengenai kesehariannya. Bagaimana mak anti ini seringkali menahan
lapar seharian karena keterbatasannya untuk memenuhi kebutuhannya. Biasanya mak
Anti baru makan menunggu pemberian dari tetangga. Diriku mencoba menyadarkan diri bahwasanya ini bukan di somalia, bukan pula rohingnya, ini negeri ku sendiri. Subhanallah..
Keseharian mak anti beternak
angsa dan itupun hanya 3 angsa yang mak Anti miliki. Sisanya terdapat ayam dan
angsa yang bukanlah milik mak Anti. Kemudian tak berselang berapa lama,
meneteslah air mata mak anti ketika menceritakan keempat anaknya. Dari keempat
anaknya, hanya 1 yang masih mengingat mak anti. Ketiga anak yang lain hilang bagaikan
ditelan bumi, sudah lama pergi keluar kota dan tak memberi kabar sama sekali
hingga saat ini. Duh ya Allah, sungguh tegar mak Anti ini. Lagi – lagi diriku
merasa tertampar, diriku berjanji pada diriku sendiri jika kelak ibu ku sudah
lanjut usia tak kan ku biarkan ibuku seperti ini.
Kemudian kami pun berinisiatif
membeli makan untuk mak Anti. Pada awalnya mak Anti tersipu malu untuk makan
bersama kami, Namun akhirnya beliau makan bersama kami dengan tak jarang tawa
hadir di wajah mak Anti. Untuk kesekian kalinya mak Anti kembali mengeluarkan
air mata. Beliau terharu ketika anaknya pun sudah tidak peduli dengan beliau,
tetapi melihat kami yang bukan siapa – siapa beliau begitu peduli terhadap
beliau, ucap mak Anti.

Ya..ya.ya, lagi – lagi aku banyak
belajar dari beliau bahwasanya ketika orangtua yang sudah tua renta, mereka sangat
merindukan kehadiran anak – anaknya di sisinya. Ini bukan serial cerita fiksi
Malin kundang yang biasa ku baca di dongeng – dongeng, namun ini realita yang
terjadi sesungguhnya. Innalillahi..
Hmm.. lagi
– lagi diriku banyak belajar, seringkali aku mengeluh padahal di luar sana
masih banyak orang yang keadaannya lebih sulit daripada diriku namun tak
mengeluh, setegar mak anti. Aku tak bisa membayangkan ketika kelak aku sudah tua
renta, kemudian hanya tinggal sendiri di gubuk tua tanpa ada seorang pun yang
menemani dengan tempat tinggal pun tak layak untuk dihuni..
Begitu banyak kisah hidup yang
dapat dijadikan pembelajaran ketika kita mau meluangkan waktu kita sejenak untuk
bertemu sosok – sosok layaknya mak anti ini. Meluangkan waktu untuk bertemu
mereka loh ya bukan hanya menemui mereka di waktu luang hehe
Lainsyakartum Laadzidannakum,
sering – seringlah bersyukur akan semua nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita
saat ini. Jika memang bersyukur dirasa sulit, cobalah sekali saja luangkan waktu
untuk menemui sosok layaknya Mak Anti. Atau lebih baik lagi, ubah pola fikir
kita bahwasanya meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka adalah wujud syukur kita
kepada Allah SWT.

Tidak punya waktu? Sibuk? Kan udah
dibilang, cobalah meluangkan waktu bukan menemui hanya di waktu luang hehe..
Punya kelebihan harta tetapi
belum ada waktu? Mungkin bisa bantu donasi.
Belum ada kelebihan harta tetapi
ingin ikut berpatisipasi? Kan masih ada tenaga, Ayo ikut bersama kami.
Banyak cara kok selama kita “MAU”,
tidak ada alasan kecuali memang “TIDAK MAU” itu lain hal :)
Baiklah, . Mungkin cukup sekian
dahulu cerita singkat dari penulis ulung ini mengenai kunjungan tim Karawang
Peduli ke mak Anti. Sebenarnya kunjungan kami ke Cibuaya bertemu dengan 2
penerima. Mungkin untuk penerima yang satu lagi akan kuceritakan di lain waktu. Tentunya masih banyak salah kata ataupun penulisan mohon
dimaafkan. Semoga cerita singkat ini dapat menginsipirasi teman – teman sekalian
agar selalu berjuang dalam kebaikan.
Jazakumullah khairan katsiran.
Karawang, 24 April 2017
Penulis ulung