Malu rasanya diri ini jika diharuskan bertemu dengannya dalam keadaan yang seperti ini,
keadaan yang masih fakir ilmu, yang mungkin masih banyak mengecewakan dan sangat jauh dari harapan.
Malu rasanya diriku ini akan jauhnya angan dan kenyataan untuknya,
diriku terlalu malu untuk banyak berharap akan dia yang menjadi inspirasiku..
Diriku hanya mampu berdoa, Semoga saja bukan kekecewaan yang akan menggelayuti hari-harinya ketika ia telah memilihku kelak,
sebagai seseorang yang dipilihnya sebagai pelengkap tulang rusuknya sehingga kembali menjadi sempurna..
Semoga saja bukan tundukan pandangan karena fisikku tidak sesuai dengan harapannya, sungguh terlalu menyiksa, bahkan hanya untuk mengandai-andaikannya,
Bagaimana jika nanti wajahnya tiba-tiba berkerut, saat diajaknya aku berdiskusi tentang hal yang benar-benar belum aku mengerti, hal yang benar-benar tidak terlintas satu ide pun untuk menjadi komentarku atas pernyataanmu.
Atau mungkin ketika tanpa sadar wajahnya tak lagi sumringah seperti saat pertama ia memilihku menjadi pendampingnya.
Ahh, aku terlalu takut untuk itu.
Terlalu malu dan takut untuk menjabarkan berbagai kemungkinan yang membuatku tidak sampai hitungan lima jari dari 100 angka (kriteria) calon suami idamannya.
Untuk sebuah hati di sana..
Semoga kau tahu bahwa aku tidak bisa memberimu banyak, tidak bisa menjamin sesuatu yang berlebih atau bahkan seperti Muhammad atau Ali sang calon suami dambaan kaum hawa.
Aku ingin kamu menjadi pelengkapku..
Bersama menjadikan rumah kita menjadi sedekat mungkin dengan kehangatan rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam..
Untuk dirimu yang entah pernah melintaskan sesosok calon yang sangat biasa seperti aku atau tidak, kuharap senyum yang bisa aku jaminkan senantiasa menemani hari2 kita, yang bisa menjadi hal berarti bagi kita.
Semoga ketidaktahuanku menjadikan kita satu simpul tali yang semakin erat dan menguatkan..
Semoga segala hal yang tidak bisa aku janjikan tetap membuatmu menjadikanku pilihan terbaikmu…
Sampai ketemu..Hingga saat kita mengalaminya bersama, kelak saat Allah memberikan tanda tangan peresmiannya..
Sungguh sejujurnya tiada kesempurnaan yang menjadi perisai diri ini, hanya kefakiran akan ilmu dan akhlak yang (karenanya) membuatku merasa malu dan takut untuk bertemu denganmu.
Semoga tiada tergambar raut penyesalan dari parasmu saat melihat kenyataan seperti apa kondisi calon suamimu ini.



0 comments:
Post a Comment