Content

Terimakasih abah Katim

Sunday, 5 November 2017
Assalamu'alaykum..wr..wb

Pada hari ini, tepatnya 5 November 2017, komunitas Ketimbang Ngemis Karawang (KNK) memiliki 2 agenda untuk menemui 2 solia (sosok mulia) yakni abah Amin dan abah Katim. Siapakah sosok beliau sebenarnya? In syaa Allah akan saya coba bahas satu persatu disini.

------------------------------------------------------------------- 

Minggu pagi kami awali dengan menemui abah katim terlebih dahulu karena beliau biasa berjualan barang dagangannya di KarangPawitan setiap sabtu dan minggu pagi. Lantas apa barang yang beliau jual? Mungkin sebagian besar “kids jaman now” belum familiar dengan barang yang beliau jual. Ya, itu adalah sebuah mainan berbentuk busur dengan ada laba – laba ditengahnya. Harganya hanya sekitar 5000 rupiah per mainannya. Tapi sebentar, apakah yang menyebabkan beliau menjadi sosok inspiratif?





Baik saya akan coba jelaskan. Usia beliau sudah tidak muda lagi, dan beliau (maaf) sempat terkena penyakit katarak, namun Alhamdulillah berkat amanah, doa dan sumbangsih teman – teman & donatur melalui komunitas Ketimbang Ngemis Karawang, beliau baru saja melakukan operasi kataraknya dan saat ini sedang dalam tahap pemulihan. Dan yang membuat hati ini terenyuh adalah ketika beliau mengutarakan keinginannya untuk dapat membaca dengan jelas Al-quran. Allahu akbar..


"Disini diriku merasa tertampar, yang terkadang masih melewatkan hari berlalu begitu saja tanpa membaca Al-quran. Alasan sibuk dengan pekerjaan, lelah dalam beraktifitas, ahh 1001 alasan. Padahal hakikatnya tilawah quran itu meluangkan waktu untuk membaca bukan membaca quran di waktu luang."

Baik itu tadi hanya intermezzo sedikit hehe

Lanjut, kemudian setelah bertemu dengan abah katim, dari komunitas Ketimbang Ngemis Karawang berdialog sedikit dengan abah katim. Lalu menanyakan sudah laku berapa mainan yang terjual, alhasil abah katim menjawab, “Alhamdulillah sudah 10 mainan hari ini dari 50 mainan yang dibawa”. Kami pun sontak mengucapkan hamdalah dan turut senang dagangan abah katim sudah terjual 20 persennya. Kemudian setelah sampai kurang lebih sekitar jam 10an, kami mengajak abah katim untuk pulang dan mengajarkan kami bagaimana cara membuat mainan tersebut.


Ternyata jarak dari tempat abah katim berdagang dengan rumahnya cukup jauh, kurang lebih sekitar 2KM. Abah katim biasa melalui rute itu dengan berjalan kaki. Padahal kondisi penglihatan abah juga masih belum pulih betul dan mengingat usia abah katim yang sudah cukup berumur, tentu jarak 2KM itu sangatlah melelahkan. Dan perlu digarisbawahi bahwasanya beliau hanya berjualan barang dagangannya di hari sabtu dan minggu saja mengingat usia nya yang sudah tak lagi muda.

"Ya Disini lagi-lagi diriku merasa tertegur ketika melihat abah katim memikul barang dagangannya dalam satu plastik besar, baru laku 10 buah saja namun beliau sudah sangat bersyukur. Ya , memang benar terkadang diri ini seringkali kufur akan nikmat yang Allah berikan, serta rasa tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Qadarullah, lagi – lagi diriku banyak belajar dari abah Katim akan pentingnya qanaah dalam hidup."

Duh, maafkan lagi – lagi intermezzo hehe

Baik, sesampainya di rumah abah katim, beliau langsung mengambil sebuah kresek hitam. Dan ternyata itu adalah bahan utama mainan tersebut. Dan ternyata itu adalah sebuah asahan untuk mencetak tubuh laba – laba dan tanah liat biasa. Luar biasa, ini diluar dugaan kami karena bahan yang beliau gunakan sebagian besar benda daur ulang yang mudah kita dapatkan di sekitar kita. Namun beliau begitu kreatif mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Dan disini kami mulai diajarkan beliau bagaimana cara membuat mainan tersebut. Ternyata tidaklah mudah, jika baru saja mencobanya mungkin bentuk laba – labanya tidak sebaik buatan abah katim hehe















Di akhir cerita ini ku banyak mengambil pelajaran diantaranya ketika orang – orang lain disana berlomba – lomba menjadi pengemis ataupun meminta – minta belas kasihan oranglain padahal orang tersebut masih mampu melakukan hal selain itu, namun tidak untuk Abah Katim. Karena pada dasarnya, rezeki semua orang itu sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya dan mensyukurinya.

Bila teman – teman bertemu abah Katim ataupun sosok seperti abah Katim, belilah barang dagangannya semampu kita. Mungkin uang yang kita keluarkan terasa kecil untuk kita, namun tidak untuk mereka. Oh iya, bagi rekan – rekan yang mungkin ingin membeli dagangan abah katim atau berbagi sebagian rezeki kepada abah Katim, teman – teman dapat menemui beliau setiap sabtu dan minggu pagi di Karang Pawitan in syaa Allah.

"Dan memang, Terkadang kita perlu menjadi orang yang pura – pura membutuhkan. Bukan karena memang butuh, mungkin lebih tepatnya memposisikan diri kita pada posisi mereka dan juga refleksi rasa syukur kita kepada yang Maha Kuasa."

Mungkin cukup sekian mengenai cerita singkat sosok Abah Katim semoga dapat menginspirasi teman – teman sekalian. Mengenai sosok abah Amin , in syaa Allah akan saya bahas di post berikutnya. Mohon maaf bila banyak khilaf dan kesalahan kata, walau bagaimana pun penulis hanyalah seorang manusia biasa yang belum baik namun masih berproses untuk menjadi orang baik.
Wassalamu’alaykum..Wr.wb



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts